pesonadieng.com

Tertarik Sistem Subak, Wisatawan Kunjungi Jatiluwih di Tabanan

Desa Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali.
Lihat Foto

DENPASAR, - Kunjungan wisatawan mancanegara maupun nusantara ke Kawasan Catur Angga Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali mengalami peningkatan yang signifikan sejak UNESCO mengukuhkan menjadi warisan budaya dunia (WBD).

"Begitu dikukuhkan 20 Juni 2012 atau tiga tahun yang silam di berbagai media, khususnya televisi memuji keindahan alam Jatiluwih dengan sistem subaknya, sehingga masyarakat dunia tertarik ke Jatiluwih," kata pengamat pariwisata, Tjok Agung di Denpasar, Senin (30/3/2015).

Sebagaimana dilaporkan Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah pengunjung ke kawasan wisata Jatiluwih selama 2012 hanya sekitar 97.909 orang bertambah menjadi 101.560 wisatawan tahun 2013 dan selama 2014 meningkat menjadi 165.158 orang.

Masyarakat internasional tentu ingin mengetahui dari dekat sistem irigasi sawah khas Bali yang telah dianugerahi status Warisan Budaya Dunia untuk kategori lanskap budaya. "Tentu mereka (turis) ingin tahu kenyataannya," katanya.

Menurut Tjok Agung, pengelolaan obyek wisata berupa bentangan sawah yang indah Jatiluwih di daerah "gudang beras" Pulau Dewata itu mulai memberikan manfaat, baik kepada masyarakat yang datang ke sana maupun petani itu sendiri.

Semakin banyak masyarakat internasional yang berkunjung ke kawasan sawah tersebut tentu akan mampu menambah penghasilan pengelolanya, sebab setiap pengunjung ke sana dikenakan tiket masuk dan disediakan tempat parkir kendaraan.

DOK INDONESIA.TRAVEL Ukustrasi: Sawah di Desa Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali.
"Turis dalam maupun luar negeri yang datang ke sini tentu akan merasa puas setelah menyaksikan hamparan lahan subak yang kondisinya berundag-undang (terasering), kehidupan serta aktivitas petani berjalan begitu damai," paparnya.

Sebagian besar petani yang terhimpun dalam 14 subak di kawasan Catur Angga Batukaru itu menjadi satu-kesatuan dengan tiga kawasan lainnya di Bali yang telah dikukuhkan UNESCO menjadi WBD kini mulai dikenal masyarakat internasional.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat