pesonadieng.com

Tur Zero Dollar Kembali Terjadi di Thailand, Dinilai Lebih Berbahaya

Ilustrasi pasar apung Damnoen Sadhuek di Ratchaburi, Thailand.
Lihat Foto

- Praktik zero-dollar tours (tur nol dollar) kembali terjadi di Thailand yang berdampak negatif terhadap industri pariwisata negara tersebut. 

Dibandingkan dengan yang sebelumnya, zero-dollar tours kali ini dianggap jauh lebih murah dan lebih merugikan. Target praktik ilegal ini tidak hanya wisatawan asing dari China, tapi juga meluas ke India dan Rusia. 

"Ini adalah kondisi pengoperasian terburuk yang pernah saya temui selama saya bekerja di bisnis tur," kata Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (Atta), Sisdivachr Cheewarattanaporn, dikutip dari Bangkok Post, Rabu (19/6/2024).

Masalah ini disebut muncul setelah pembukaan kembali Thailand secara penuh usai dilanda pandemi Covid-19, ditambah adanya kerja sama bilateral antara Pemerintah Thailand dan Pemerintah China terkait pembebasan visa sejak awal Maret 2024.

Baca juga:

Apa itu zero-dollar tours di Thailand?

Pihak yang menjalankan paket zero-dollar tours memangkas biaya perjalanan wisata dengan cukup besar, tapi membebankan biaya tersebut ke hal lainnya setibanya wisatawan asing di Negeri Gajah Putih untuk menutup kerugian.

Misalnya, wisatawan asing "dipaksa" berbelanja dan menghabiskan antara 70.000-100.000 baht (sekitar Rp 31,2 juta-Rp 44,6 juta) per orangnya, dilansir dari The Nation Thailand.

Toko-toko yang dijadikan tempat berbelanja pun memang didirikan untuk memeras wisatawan.

Baca juga: Turis Asing di Thailand Wajib Bawa Uang Tunai Rp 6,5 Juta, Indonesia Bagaimana?

Ilustrasi Maeklong Railway Market di Thailand.Dok. Pixabay/schliff Ilustrasi Maeklong Railway Market di Thailand.

Cheewarattanaporn menyampaikan, tur tersebut cukup mengganggu pelaku usaha wisata di Thailand karena menimbulkan monopoli.

Tidak hanya itu, Thailand bisa dianggap sebagai negara yang murah dan tidak aman bagi wisatawan.

"Hal ini telah menyebabkan tekanan yang signifikan bagi operator tur Thailand, dan jika pemerintah tidak mengatasi masalah ini, diperkirakan dalam waktu satu tahun, perusahaan-perusahaan tur Thailand akan melemah dan akhirnya bangkrut," jelasnya.

Menurut dia, tur yang mengacaukan pasar ini melibatkan perusahaan tur asal China, dengan memanfaatkan nominees asal Thailand guna membawa grup wisatawan asing dari China ke negara tersebut.

Adapun nominees merujuk pada individu yang namanya tercantum sebagai pemilik saham, real estate, atau lain sebagainya, tapi bukan pemilik sebenarnya, dilansir dari Dictionary

Praktik ilegal ini berbeda dengan pro fai mai (promosi panas) yaitu penawaran ekstra murah yang bisa membantu operator tur mengisi slot kosong dalam waktu singkat.

Baca juga:

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat