pesonadieng.com

Mengenal Subak Jatiluwih yang Akan Dikunjungi Delegasi World Water Forum 

Ilustrasi subak Jatiluwih, Bali.
Lihat Foto

-  Subak Jatiluwih di Bali menjadi sebagai salah satu lokasi yang dipilih untuk karyawisata delegasi World Water Forum (WWF) ke-10 yang akan berlangsung 18-25 Mei 2024.

Subak Jatiluwih merupakan sistem pengariran sawah bertingkat di dataran tinggi Tabanan, Bali, seluas 300 hektare. 

Subak menganut sistem pengairan yang adil bagi seluruh petani dan menjadi kearifan lokal setempat karena dikelola bersama melalui organisasi. 

Subak Jatiluwih menjadi salah satu contoh sistem pengairan sawah yang khas di Pulau Dewata.  Sejak ratusan tahun mereka memanfaatkan parit sebagai tempat penampungan air yang akan terus mengalir ke sawah-sawah mereka.

Pengelola daya tarik wisata Subak Jatiluwih, John K Purna, yang juga menekuni pertanian, menjelaskan bahwa para petani di wilayah tersebut sudah bergabung dalam kelompok secara turun-temurun.

Tidak diketahui sejak kapan masyarakat di Jatiluwih  menggunakan sistem irigasi subak, lantaran secara berkelanjutan keturunan mereka sudah bergabung dan mendapat aliran air dari parit.

Baca juga:

Saat ini, kelompok petani dibagi dalam tujuh tempekan yang dipimpin oleh ketua adat yang disebut Pekaseh. Satu kelompok rata-rata terdiri 35 petani, sehingga seluruh petani berjumlah 254 orang.

Budaya pertanian ini terus dipertahankan lantaran bekerja dengan landasan keadilan. Hal ini tercermin dari pembagian air yang merata bagi seluruh anggota.

Masyarakat juga bertahan dengan sistem gotong royong. Mereka memelihara parit dan merawat subak agar selalu bersih dan mampu mengairi air ke sawah-sawah mereka.

“Leluhur kami dahulu tahu dimana sumber air. Jadi dari atas dibuat parit dibawa ke sawah. Jadi tergantung berapa besaran lahan yang mereka punya, sebanyak itu air yang diberikan. Ini tradisi yang selalu kami pertahankan,” kata John dikutip dari siaran pers Kemenparekraf, Sabtu (4/5/2024).

Sejumlah titik kawasan Subak Jatiluwih terdapat tembuku atau tempat pembagian air. Dari tempat itu air akan masuk ke parit yang disemen, lalu mengalir satu per satu dari sawah paling atas ke hilir tanpa bantuan mesin apapun.

“Kalau sawah di luar Bali umumnya mengambil air sebisanya, ada air di bawah diangkat secara manual, sementara disini tidak boleh. Semua sumber air mengalir, tidak bisa tiba-tiba ambil air orang,” ucapnya.

Penduduk meyakini, warisan budaya yang diakui UNESCO ini terus eksis berkat implementasi falsafah hidup Hindu Bali, Tri Hita Karana yang terus diamalkan. 

Falsafah hidup ini menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Akhirnya, seluruh elemen bekerja merawat sawah di dataran dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (Mdpl) itu.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat